THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 14 November 2010

Pertentangan Pertentangan Sosial & Integrasi Masyarakat

1.Kepentingan Individu untuk memperoleh harga diri

-Teori :

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kepentingannya, maka ia akan merasa puas dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kepentingan ini akan banyak menimbullkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya.

Pada umumnya secara pskologis dikenal ada dua jenis kepentingan dalam diri individu, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/pskologis. Oleh karena individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis didalam aspek pribadinya baik jasmani maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan tersebut secara garis besar disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pembawaan dan lingkungan sosial sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu dalam hal kepentingannya, meskipun dengan lingkungan yang sama. Sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu dalam hal kepentingan meskipun pembawaannya sama

Perbedaan kpentingan itu antara lain berupa :

1. kepentingan indivdu untuk memperoleh kasih sayang
2. kepentingan indivdu untuk memperoleh harga diri
3. kepentingan individu untuk memperoleh pengharagaan yang sama
4. kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi
5. untuk dibutuhkan oleh orang lain
6. untuk memperoleh kedudukan didalm kelompoknya
7. kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
8. kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri

2.2 Prasangka dan Driskiminasi

Prasangka dan diskriminasi adalah dua hal yang ada relevan, Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan, perkembngan dan bahkan integrasi masyarakat.

Prasangka mempunyai dasar pribadi, dimana setiap orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sifat bermusuhan sudah nampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, membuat sikap cenderung untuk membeda-bedakan. Kerugiannya prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun-menurun) sehingga tidak heran kalu prasangka ada pada mereka yang berpikirnya sederhana dan masyarakat yang tergolong cendikiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan.

Perbedaan terpokok antara prasangka dan diskriminatif adalah bahwa prasangka menunjukkan Sikap seseorang baru diketahui bila ia sudah bertindak atau sudah bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap pertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak tampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realities. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang relistis, sedangakn prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri individu masing-masing.

Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah dan dibarengi proses simplivikasi (terlalu menyederhanakan) terhadap suatu relita.

Jika prasngka itu disertai agresifitas dan rasa permusuhan, semunaya tidak bias disalurkan secara wajar, biasanya orang yang bersangkutan lalu mencari objek’kambing hitam’ yaitu suatu objek untuk melmpiasakan segenap prestast dan rasa-rasa negatif, yang biasanya berwujud indivdu atau kelompok sosial.

ETHNOSENTRISME dan STEREOTYPE

Perasaan dalam dan luar kelompok merupakan dasar untuk suatu sikap yang disebut dengan ethnosentrisme. Anggota dalam lingkungan suatu kelompok mempunyai kecenderungan untuk menganggap segala yang termasuk dalam kebudayaan kelompok sendiri sebagai utama, baik riil, logis, sesuai dengan kodrat alam, dan sebagainya, dan segala yang berbeda dan tidak masuk ke dalam kelompok sendiri dipandang kurang baik, tidak susila, bertentangan dengan kehendak alam dan sebagainya. Kecenderungan-kecenderungan tersebut disebut dengan enthosentrisme, yaitu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan orang lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri.

Sikap enthosentrisme ini diajarkan kepada anggota kelompok baik secara sadar maupun secara tidak sadar, bersama dengan nilai-nilai kebudayaan. Sikap ini dipanggil oleh suatu anggapan bahwa kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan lainnya. Bersama itu pula ia menyebarkan kebudayaannya, bila perlu dengan kekuatan atau paksa

Proses diatas sering dipergunakan stereotype, yaitu gambaran atau anggapan jelek. Dengan demikian dikembangkan sikap-sikap tertentu, misalnya mengejek mengdeskreditkan atau mengkambing hitamkan golongan-golongan tertentu. Stereotype diartikan sebagai tanggapan mengenai sifat-sifat dan waktu pribadi seseorang atau golongan yang bercorak nnegatif sebagai akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang subjektif.

Konsep Tentang Masalah Sosial

Secara sederhana, konsep masalah sosial seringkali dikaitkan dengan masalah yang tumbuh dan/berkembang dalam kehidupan komunitas. Apapun masalah itu jika berada dalam kehidupan suatu komunitas akan selalu dikaitkan sebagai masalah sosial. Benarkah? Jika ditinjau dari dimensi sosiologi sebagai sebuah ikmu sosial yang selama ini sering menganalisis, mensintesis dan juga memprognosis berbagai masalah sosial, pernyataan itu salah. Dalam prespektif sosiologi, tidak semua masalah yang timbuh atau berkembang dalam kehidupan suatu komunitas adalah masalah sosial. Istilah sosial ini tidaklah identik dengan komunitas, namun hanya menunjukkan bahwa masalah itu berkaitan dengan tata interaksi, interelasi dan interdepensi antar anggota komunitas. Dengan kata lain, istilah sosial dalam masalah sosial menunjukkan bahwa masalah itu berkaitan dengan prilaku masyarakat.

Oleh karena itu, jika ditinjau dari teoritik, ada banyak factor penyebab terhadap tumbuh atau berkembangnya suatu masalh sosial. Secara umum, factor penyebab itu meliputi faktor structural, yaitu pola-pola hubungan antar-individu dalam kehidupan komunitas dan faktor cultural, yaitu nilai-nilai yang tumbuh atau berkembang dalam kehidupan komunitas. Adanya perubahan kedua faktor itulah, yang selama ini diteoriakan sebagai faktor penyebab utama munculnya masalah sosial. Logika teoritisnya adalah: ketika terjadi perubahan pola-pola hubungan sosial atau perubahan nilai-nilai sosial, maka sebagian anggota komunitas akan ada yang sangat siap, cukup siap dan sama sekali tidak siap dalam menerima perubahan itu. Kesiapan atau ketidaksiapan itulah yang kemudian menyebabkan perbedaan mereka dalam melakukan adaptasi dalam lingkungan sosialnya. Jika mereka yang tidak siap menerima perubahan itu justru sebagian besar (mayoritas) anggota komunitas, maka muncullah masalah sosial itu. Kata kuncinya dalam konteks ini adalah adaptasi sosial yang dilakukan individu. Berikut ini akan dikemukakan berbagai cara adaptasi terhadap lingkungan sosial yang bisa dipilih individu, ketika ia menerima perubahan baik secara kultural maupun structural, sebagaimana diteoriakan secara klasik oleh Robert K.Merton (1961).

Keterangan:

# Tanda + berarti menerima perubahan nilai-nalai dan cara-cara yang di lembagakan.

# Tanda – berarti menolak perubahan nilai-nilai dan cara-cara yang di lembagakan.

# Tanda +/- berarti menolak dan menghendaki nilai-nilai dan cara-cara baru yang di lembagakan.

Berdasarkan tabel tersebut, maka conformity berarti individu menerima perubahan nilai-nilai kultural dan menerima cara-cara yang di lembagakan. Inovasi berarti individu hanya menerima perubahan nilai-nilai kulturalnya saja. Ritualism berarti individu hanya menerima perubahan cara-cara yang di lembagakan saja. Retreatism berarti individu tidak menerima perubahan apapun. Rebellion berarti individu tidak menerima perubahan, tapi sekaligus menginginkan adanya nilai-nilai dan cara-cara baru yang di lembagakan.

Fokus analisis

Fokus-fokus analisis terhadap masalah-masalah sosial akan tergantung pada ruang lingkup dari masalah sosial itu sendiri. Artinya, dalam kenyataannya, ada masalah sosial yang ruang lingkupnya kecil, lumayan besar atau sangat besar. Oleh karena untuk menentukan apa fokus terhadap masalah-masalah sosial tersebut, lebih dulu harus dilihat beberapa indicator berikut ini:

1. Dengan melihat angka rata-rata pertumbuhan atau perkembangan dari masalah tersebut, terutama dalam kurun waktu tertentu.
2. Dengan mencermati gabungan angka rata-rata itu dalam berbagai kasus.
3. Dengan mencermati terganggunya hubungan-hubungan sosial antar lapisan, antar kelompok maupun antar golongan dalam suatu komunitas.
4. Dengan mencermati terganggunya partisipasi anggota suatu komunitas dalam suatau kegiatan sosial.
5. Dengan mencemati adanya keresahan sosial dalam suatu kominitas.

Tentu saja untuk mengetahui apakah kelima indikator tersebut menggejala atau tidak dalam suatu kominitas, harus didukung oleh data, fakta atau komunikasi empiris yang benar-benar valid dan realible. Mengapa ? karena masalah sosial adalah masalah yang benar-benar riil yang dihadapi oleh komunitas itu sendiri, dan bukan dihadapi oleh orang yang berada di luar komunitas. Karena itu dalam berbagai kasus. Fokus analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu masalah sosial dalam kelompok. Kelompok disini bisa berupa kelompok kecil (misalnya, terdiri dari kelompok se-Desa atau se-Kelurahan), kelompok agak besar (misalnya, terdiri dari komunitas se-Kabupaten atau se-Kota), kelompok besar (misalnya, terdiri dari dari masyarakat se-Bangsa atau se-Negara). Namun apapun kriteria dari besar atau kecilnya kelompok tersebut, semua akan tergantung kepada sejauh mana ikatan nilai-nilai dan norma-norma sosial masih menjadi acuan dari kelompok tersebut dan apakah nilai-nilai dan norma-norma sosial tersebut masih digunakan secara efektif oleh kelompok sebagai instrument pengendali dalam kehidupan komunitasnya.

INTEGRASI MASYARAKAT SOSIAL

Integrasi Masyarakat dan Nasional, Integrasi masyarakat dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan, berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama dijunjung tinggi.

Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan berkuranmgnya sikap-sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara keseluruhan. Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan. Oleh karena itu untuk mewujudkan integrasi bangsa pada bangsa yang majemuk dilakukan dengan mengatasi atau mengurangi prasangka

Perlu dicari beberapa bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sebagai akibat dari prasangka, yaitu melalui empat sistem, diantaranya ialah :

1.Sistem budaya seperti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

2.Sistem sosial seperti kolektiva-kolektiva sosial dalam segala bidang.

3. sistem kepribadian yang terwujud sebagai pola-pola penglihatan (persepsi), perasaan (cathexis), pola-pola penilaian yang dianggap pola-pola keindonesiaan, dan

4. Sistem Organik jasmaniah, di mana nasionalime tidak didasarkan atas persamaan ras. Untuk mengurangi prasangka, keempat sistem itu harus dibina, dikembangkan dan memperkuatnya sehingga perwujudan nasionalisme Indonesia dapat tercapai.



-studi kasus:
Suatu hari, saat menunggu mobil direparasi, saya duduk di Starbuck’s di samping seorang ibu yang tengah asyik bercerita mengenai "rahasia kecurangan kecil dalam mengasuh anak." Dirinya dan suami, masing-masing mempunyai "anak favorit" sendiri.

Ia pribadi lebih cocok dengan anak bungsunya sementara suaminya merasa lebih cocok dengan anak sulung mereka. Saya percaya hal tersebut terjadi secara alamiah dan umum, tetapi kebanyakan orang tua malu untuk mengakuinya.

Sebenarnya hal memalukan adalah apabila tindakan orang tua menunjukkan sifat pilih kasih yang berlebihan. Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa tindakan akan ’berbicara’ lebih banyak daripada kata-kata yang kita ucapkan, meskipun saya tahu, banyak agama mempercayai apa yang ada dalam hati seseorang merupakan hal yang utama.

Saya betul-betul tidak setuju dengan filosofi tersebut dan percaya bahwa apa yang ada di dalam hati atau pikiran kita baru akan terwujud jika kita mengimplementasikannya. Kita bahkan kadang-kadang sampai berpikir untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan. Saat itu bila kita melihat ke dalam dan bisa menahan diri, itu berarti kita sedang bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Orang tua bukan manusia jika mereka tidak merasakan ’ikatan’ terhadap anak yang lebih mencerminkan diri mereka sendiri, kepribadian mereka, kesukaan mereka, dan ketidaksukaan mereka. Dengan cara yang sama, orang tua mungkin menyukai salah satu anak atau anak lainnya di saat yang berbeda dalam kehidupan mereka, berkaitan dengan perilaku, minat, dan watak. Dan melihat kenyataan, kita semua tahu keturunan tidak berarti kloning, karena setiap anak dapat menjadi sosok yang sangat berbeda pada wajah dan kepribadian.

Putra-putra saya memiliki karakter yang sangat berbeda. Putra sulung merupakan pencerminan diri saya bahkan bisa dikatakan dalam segalanya, sementara adiknya lebih mirip ibunya. Meskipun demikian, ketika saya melihat perbedaan ini dan adakalanya merasa frustasi karenanya, saya hanya menyimpannya dalam hati dan berusaha untuk tidak pilih kasih.

Sayangnya, ibu mereka (sekarang mantan istri saya) meniru tindakan buruk keluarganya yang pilih kasih dan lebih menyayangi putra bungsu kami. Hal ini menjadi makin buruk selama perpisahan dan perceraian kami, yang menimbulkan masalah-masalah yang berbeda tetapi sama-sama menyulitkan anak-anak dan perasaan mereka akan keamanan, keselamatan, dan kasih sayang orangtua. Anak sulung menyikapi dengan marah, sementara si bungsu memilih cara yang lebih menyenangkan.

Saya benar-benar harus bekerja ekstra untuk mengatasi dampak ulah istri saya. Saya menanyakan tentang hukuman-hukuman, setiap hak-hak istimewa yang diperbolehkan, dan pilihan-pilihan lain bagi orang tua dengan menganalisanya ibarat seorang hakim, menimbang porsi mana yang lebih berat antara pro dan kontra.

Sesungguhnya, saya tahu ada saat-saat dimana saya ’tergelincir’ dengan menghukum seorang anak terlalu berat dan membiarkan anak yang lain lolos dengan mudah.

Saya mendiskusikan hal ini dengan Ibu di Starbucks itu dan ia setuju bahwa upaya terbaik kami dengan memberi kompensasi dan tidak pilih kasih itu mungkin bukan apa yang anak-anak alami. Ini seperti peraturan pelecehan seksual bodoh dimana persepsi "pelecehan" adalah faktor tunggal yang menjadi penentu kesalahan. Hal yang sama di mana anak-anak kita mungkin benar, pandangan mereka terhadap tingkah laku kita dan kemungkinan pilih kasih.

Dalam hal ini, saya harus berpihak menurut pandangan anak dan menaruh ekstra waspada pada masalah orang tua. Jika David merasa saya lebih menyayangi kakaknya, saya harus berupaya mencari dan meneliti perilaku saya dan bukan hanya bersikap defensif. Saya percaya pandangan anak-anak harus dipertimbangkan lebih serius meski orang tua bukan bermaksud seperti yang mereka kira.

Tidak masalah. Saya harus berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkannya bahwa dia berada pada status yang sama dengan saudaranya. Saya tahu saya memang menyayanginya, tetapi itu tidak cukup. Seperti yang disinggung sebelumnya, yang terpenting adalah tindakan nyata kita.

Jelas sekali, hal yang sama juga terjadi dari sisi sebaliknya. Seringkali seorang anak secara alamiah akan lebih menyukai salah satu dari orang tua mereka sehubungan dengan perlakuan yang mereka terima dalam disiplin, bermain dan bercengkrama, waktu kebersamaan, dan kemiripan. Inilah mengapa ada stereotip ’orang tua di akhir pekan’ yang menjadi "orang baik" dengan hanya mengajak anak-anak pada saat-saat tertentu, membelikan mereka sesuatu, atau ia selalu menuruti segala permintaan anaknya.

Ini adalah situasi yang menyedihkan jika terjadi, tetapi saya percaya ini adalah kewajiban utama dari orangtua untuk mengendalikan diri agar tetap berada dalam jalur dan menjaga standar perilaku dan aturan. Ingatlah, sebagian besar anak-anak akhirnya akan mengetahui perbedaannya, antara orang tua "yang sekedar ingin menyenangkan" dan orang tua yang "sesungguhnya", yang hadir setiap saat - hujan maupun terik, sakit maupun sehat, saat menyenangkan maupun bermasalah. Ya, itulah yang dinamakan orang tua. http://erabaru.net/kehidupan/54-keluarga/10912-hindari-pilih-kasih-dalam-keluarga

-opini:
studi kasus diatas merupakan sebuah diskriminasi dapat merusak mental anak, setiap anak mempunyai harga diri. jika terjadi diskriminasi pada seseorang, maka harga diri seseorang tersebut akan hilang, apalgi itu terjadi di dalam keluarga, dimana orang yang bertanggung jawab pertama klai pada perilaku anak, bisa saja anak tersebut akan membenci orang tuanya sendiri jika diskriminasi tersebut tidak segera di hilangkan.

0 komentar: